Cerita tentang salah satu kebiasaan yang ditemui pada penduduk yang
tinggal di sekitar kepulauan Solomon, yang letaknya di Pasifik Selatan.
Nah, penduduk primitif yang tinggal di sana punya sebuah kebiasaan yang
menarik yakni meneriaki pohon. Untuk apa? Kebiasaan ini ternyata mereka
lakukan apabila terdapat pohon dengan akar-akar yang sangat kuat dan
sulit untuk dipotong dengan kapak. Baca entri selengkapnya »
Pohon Yang Kehilangan Rohnya
Maret 11, 2008 pada 3:48 am (Nice Story)
Kisah Seekor Kupu – Kupu
November 13, 2007 pada 12:58 am (Nice Story)
Di sebuah kota kecil yang tenang & indah, ada sepasang pria & wanita yang saling mencintai.
Mereka selalu bersama memandang matahari terbit di puncak gunung, bersama di pesisir pantai menghantar matahari senja.
Setiap orang yang bertemu dengan mereka tdk bisa tidak akan menghantar dengan pandangan kagum & doa bahagia. Mereka saling mengasihi satu sama lain.
Namun pd suatu hari, malang sang lelaki mengalami luka berat akibat sebuah kecelakaan. Ia berbaring di atas ranjang pasien beberapa malam tdk sadarkan diri di rumah sakit. Siang hari sang wanita menjaga di depan ranjang & dgn tiada henti memanggil2 kekasih yg tdk sadar sedikitpun.
Malamnya ia ke gereja kecil di kota tsb & tak lupa berdoa kepada Tuhan agar kekasihnya selamat.
Air matanya sendiri hampir kering krn menangis sepanjang hari.
1000 Burung Kertas
Juli 11, 2007 pada 2:34 am (Nice Story)
Sewaktu Boy dan Girl baru pacaran,
Boy melipat 1000 burung kertas buat Girl,
menggantungkannya di dalam kamar Girl.
Boy mengatakan 1000 burung kertas itu menandakan 1000 ketulusan hatinya.
Waktu itu…
Girl dan Boy setiap detik selalu merasakan betapa indahnya cinta mereka berdua…
Tetapi pada suatu saat, Girl mulai menjauhi Boy.
Girl memutuskan untuk menikah dan pergi ke Perancis…
Ke Paris…Tempat yang dia impikan di dalam mimpinya berkali2 itu…
Sewaktu Girl mau memutuskan Boy, Girl bilang sama Boy,
kita harus melihat dunia ini dengan pandangan yang dewasa…
Menikah bagi cewek adalah kehidupan kedua kalinya…
Aku harus bisa memegang kesempatan ini dengan baik.
Kamu terlalu miskin, sungguh aku tidak berani membayangkan
bagaimana kehidupan kita setelah menikah…!!
Setelah Girl pergi ke Perancis,
Boy bekerja keras…
dia pernah menjual koran…
menjadi karyawan sementara…
bisnis kecil…
setiap pekerjaan kerjakan dengan sangat baik dan tekun.
Sudah lewat beberapa tahun…
Karena pertolongan teman dan kerja kerasnya,
akhirnya dia mempunyai sebuah perusahaan.
Dia sudah kaya, tetapi hatinya masih tertuju pada Girl,
dia masih tidak dapat melupakannya.
Pada suatu hari… waktu hujan,
Boy dari mobilnya melihat sepasang orang tua berjalan sangat pelan di depan.
Dia mengenali mereka, mereka adalah orang-tua Girl….
Dia ingin mereka lihat kalau sekarang dia tidak hanya mempunyai mobil pribadi,
tetapi juga mempunyai villa dan perusahaan sendiri,
ingin mereka tahu kalau dia bukan seorang yang miskin lagi,
dia sekarang adalah seorang Boss.
Boy mengendarai mobilnya sangat pelan sambil mengikuti sepasang orang-tua tersebut.
Hujan terus turun tanpa henti, biarpun kedua orang-tua itu memakai p ayung ,
tetapi badan mereka tetap basah karena hujan.
Sewaktu mereka sampai tempat tujuan,
Boy tercegang oleh apa yang ada di depan matanya, itu adalah tempat pemakaman.
Dia melihat di atas papan nisan Girl tersenyum sangat manis terhadapnya.
Di samping makamnya yang kecil, tergantung burung2 kertas yang dibuatkan Boy.
Dalam hujan, burung2 kertas itu terlihat begitu hidup,
Orang-tua Girl memberitahu Boy,
Girl tidak pergi ke Paris ,
Girl terserang kanker,
Girl pergi ke surga.
Girl ingin Boy menjadi orang,
mempunyai keluarga yang harmonis,
maka dengan terpaksa berbuat demikian terhadap Boy dulu.
Girl bilang dia sangat mengerti Boy,
dia percaya kalau Boy pasti akan berhasil.
Girl mengatakan.. .
kalau pada suatu hari Boy akan datang ke makamnya
dan berharap dia membawakan beberapa burung kertas buatnya lagi.
Boy langsung berlutut,
berlutut di depan makam Girl,
menangis dengan begitu sedihnya.
Hujan pada hari itu terasa tidak akan berhenti,
membasahi sekujur tubuh Boy.
Boy teringat senyum manis Girl yang begitu manis dan polos,
Mengingat semua itu,
hatinya mulai meneteskan darah…
Sewaktu orang-tua itu keluar dari pemakaman,
mereka melihat kalau Boy sudah membukakan pintu mobil untuk mereka.
Lagu sedih terdengar dari dalam mobil tersebut.
“Hatiku tidak pernah menyesal,
semuanya hanya untukmu 1000 burung kertas,
1000 ketulusan hatiku,
beterbangan di dalam angin
menginginkan bintang yang lebat besebaran di langit…
melewati sungai perak,
apakah aku bisa bertemu denganmu?
Tidak takut berapapun jauhnya,
hanya ingin sekarang langsung berlari ke sampingmu.
Masa lalu seperti asap…
hilang dan tak kan kembali…
menambah kerinduan di hatiku…
Bagaimanapun dicari,
jodoh kehidupan ini pasti tidak akan berubah..”
(lirik langsung di-translate dari bahasa Mandarin)
PESAN :
Kalau kamu menginginkan semua orang di dunia ini menemukan jodohnya,
maka kirimkanlah artikel ini kepada semua orang.
Sekarang berusahalah. ….. mengirimkan ini ke 20 orang atau lebih,
maka orang2 di dunia ini akan menemukan pasangan hidupnya.
Termasuk teman2 kamu…kirimkan kepada mereka,
mereka seperti barang berharga yang tidak mudah ditemukan.
Mereka memberikan kita kebahagiaan, mendorong kita untuk berhasil,
mereka mendengarkan cur-hat kita dan share pujian2 mereka.
Terus kirimkan kepada teman2 kamu dan semua orang yang kamu kenal.
Apabila artikel ini kembali padamu,
kamu akan tahu kalau kamu mempunyai teman sejati….
Kasih Sayang Ayah Tak Kelihatan
Juli 11, 2007 pada 2:20 am (Nice Story)
Ayah mengutamakan pria meremehkan wanita, kesan ini sudah berurat akar
dalam sanubariku sejak masa kanak-kanak.
Sejak kecil hingga dewasa, aku selalu mendapat pakaian bekas abangku.
Bagaimanapun seorang gadis yang mengenakan pakaian abang yang longgar
dan usang, rasanya sangat janggal. Saat pulang sekolah, aku selalu
berlengah-lengah jalan di belakang, takut kepergok teman-temanku, yang
akan mengejek dan mentertawakan sebagai bocah gadungan.
Abangku seorang laki-laki cacad, lebih tua 5 tahun dariku. Meski aku
anak perempuan, tapi aku sangat tekun belajar, setiap ujian aku selalu
dapat ranking pertama.
Seharusnya akulah yang paling pantas di sayang ayah. Karena hal ini,
aku selalu tidak terima akan sikap ayah terhadapku, aku menganggap
ayah pilih kasih. Suatu hari saat tahun baru, ayah lagi-lagi
membelikan pakaian baru untuk abang, sedangkan aku tidak satu pun.
Akhirnya aku tak tahan lagi, melabrak ayah sambil berteriak : “Kau
pilih kasih! Aku benar-benar tidak mengerti, ia hanya seorang
laki-laki cacat, apa bagusnya meski berpakaian bagus
sekalipun!”mendenga r itu, bukan main marahnya ayah dan menamparku. Aku
tidak menyerah dan mengangkat kepalaku, bak seekor singa yang lapar
aku meraung sambil menatap ayah ”Aku tahu kau memandang rendah
padaku, ayo pukul lagi! Kalau perlu bunuh saja sekalian!”muka ayah
merah padam saking marahnya, kemudian hendak menampar lagi, tapi
dicegah oleh ibu.
Sejak itu, aku makin benci sama keluarga ini, aku belajar dengan
tekun, dan berencana hendak meninggalkan keluarga ini setelah lulus ke
perguruan tinggi Abangku hanya sekolah beberapa tahun, setelah itu
berhenti dan tinggal di rumah, prestasi belajarnya selama ini sangat
memuaskan. Tapi tidak merasa menyesal untuknya, malah aku merasa
nyaman “Siapa suruh kau cacat ?”
Setelah lulus SMU aku berhasil diterima di sebuah lembaga ilmu
kedokteran. 2 tahun kemudian, aku menjalin asmara dengan seorang pria,
kami berunding untuk membeli rumah di daerah kota. Keluarga laki-laki
tinggal di desa, keadaan ekonomi juga biasa-biasa saja, kami telah
menyimpan sebagian tabungan, tapi untuk kredit rumah masih kurang. Aku
harap keluarga bisa memberi sebagian tambahan, dan ketika aku
menceritakan hal ini sama ayah, tak disangka ia langsung menolaknya
“Uang tabungan keluarag dibutuhkan untuk biaya abangmu memperistri
nanti! Masalah pembelian rumah, kau pikirkanlah sendiri! Kalau uangmu
tidak cukup, tidak perlu beli yang terlalu besar!”ayah yang tidak
mengerti perasaan membuat aku sungguh sangat kecewa.
Belakangan akhirnya pernikahan abang telah dibicarakan dan disetujui,
yaitu seorang gadis desa tetangga yang polos. Ayah mengeluarkan
puluhan ribu yuan dan dengan cukup meriah menyelenggarakan pernikahan
mereka.
Setelah menikah, aku juga sudah jarang pulang ke rumah. Beberapa hari
yang lalu ayah ulang tahun yang ke-60 tahun, ibu meneleponku, tapi aku
menolak dengan alasan lagi sibuk dan mungkin tidak bisa pulang. Dengan
kecewa ibu menutup telepon. Suamiku mengatakan, tidak baik kalau ulang
tahun ayah sampai tidak menyempatkan diri untuk pulang. Suamiku
memberi berbagai nasihat, dan akhirya aku pulang juga. Ayah tampak
sangat gembira, sibuk kesana kemari sambil bersenandung. Aku merogoh
200 yuan untuk ayah. Tapi Ayah menolaknya dengan alasan “Kalian juga
bukan keluarga berada, simpanlah untuk kebutuhan sendiri nanti!”dengan
nada datar aku berkata ”Benar!Saat aku menikah juga tidak ada
apa-apa, kami membeli sedikit demi sedikit, dan sudah hampir lengkap
seperti yang dimiliki abang. “Ayah tahu ada makna lain dalam ucapanku,
setelah itu tidak bicara lagi, dan sepanjang hari tidak terdengar lagi
nyanyian falls-nya itu.
Malamnya, aku tidur bersama ibu. Pada malam itu ibu mengatakan ”Dara
manis, lain kali tidak boleh berkata begitu sama ayah, karena marah
ayahmu hari ini menyeka air matanya!”aku berbisik pelan ”Siapa suruh
dia pilih kasih!” ibu menarik napas panjang lalu berkata ”Sayang,
tahukah kau kenapa kaki abangmu cacat ?”aku menggelengkan kepala.
“Saat kau masih anak-anak, suatu ketika ayah membawamu dan abang
menumpangi traktor pergi ke pekan raya, tapi traktor itu terbalik di
tengah jalan, dengan instingnya ayah memelukmu dan meloncat keluar.
Namun, ketika ayah kembali lagi mencari abangmu, kaki abangmu telah
tertindih di bawah roda. Abangmu kemudian di bawah ke rumah sakit, dan
meski nyawanya selamat, tapi meninggalkan cacat seumur hidup. Dan
sampai sekarang Ayahmu masih merasa sangat bersalah, Ia tidak
melindungi kalian dengan baik sekaligus. Tapi Ayah juga tidak mau aku
menceritakan hal yang sebenarnya padamu, ayah takut kau akan memikul
beban jiwa yang berat……”
Aku termangu, dan air mata berlinang membasahi wajahku.
